Jumat, 25 Mei 2012

Laporan Kelimpahan GastropodaDI DAERAH ESTUARIA PANTAI NAMBO KECAMATAN ABELI KOTA KENDARI


LAPORAN HASIL PRAKTIKUM HIDROBIOLOGI
“KELIMPAHAN GASTROPODA DI DAERAH ESTUARIA PANTAI NAMBO KECAMATAN ABELI KOTA KENDARI”



OLEH
KELOMPOK XI
ANGGOTA

1.     SUHARNO                (A1C2 08 )
2.     MARTINI                  (A1C2 08 031)
3.     FITRIYA                   (A1C2 08 080)
4.     SUFARLIYANTI     (A1C2 08 0)
5.     PITRIYANTI            (A1C2 08 0)
6.     WD. SILFIA              (A1C2 08 0)


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012



ABSTRAK

KELOMPOK XI (SUHARNO, MARTINI, FITRIYA, SUFARLIYANTI, PITRIYANTI, WD. SILFIA) “Kelimpahan Gastropoda di Daerah Estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari”. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui mengetahui kelimpahan spesies Gastropoda yang ada di daerah estuaria pantai Nambo, kecamatan Abeli kota Kendari. Praktikum ini dilaksanakan di daerah estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari kemudian dilanjutkan di Laboratorium Pengembangan Unit Biologi FKIP UNHALU Kendari, pada tanggal 14 Januari 2012. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas (X) berupa penghitungan kelimpaan Gastropoda dan variabel terikat (Y) yaitu daerah estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari. Metode yang dilakukan pada praktikum ini adalah metode penempatan plot dengan desain penggunaan transek pengamatan  sebanyak 3 buah transek yang di dalam  tiap transek dibuat 5 plot-plot pengambilan sampel pengamatan., sehingga secara keseluruhan terdapat 15 kali pengambilan data. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif. Hasil perhitungan kelimpahan diperoleh bahwa kelimpahan speises Terebralia palustris tertinggi yaitu 16,466 ind/ m2 dan kelimpahan spesies terendah yaitu Pleurocera sp.,  Somatogyrus sp., Nerita squamulata  yaitu 1 ind/ m2.


Kata Kunci : Daerah estuaria, kelimpahan, Gastropoda.
 


 
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  ……………………………………………………………    i
ABSTRAK……………………………………………………………………….     ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………..     iii
PRAKTA………………………………………………………………………….    iv

BAB I      PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang……………………………………………………..      1
B.Rumusan Masalah…………………………………………………..       3
C.Tujuan Praktikum…………………………………………………..        3
D.  Manfaat Praktikum………………………………………………....      3

BAB II     TINJAUAN PUSTAKA

A.    Kajian Teori………………………………………………………..     4
B.     Kerangka Pemikiran……………………………………………….     8

BAB III    METODOLOGI PRKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat…………………………………………………    10
B.     Variabel Penelitian, Definisi Operasional…………………………        10
C.     Populasi dan Sampel Praktikum…………………………………..      11
D.    Metode dan Desain Praktikum……………………………………      11
E.     Instrumen Penelitian dan Prosedur Pengumpulan Data……………        12
F.      Teknik Analisis Data……………………………………………….    14
BAB IV    HASIL DAN PEMBAHASAN

A.       Hasil Pengamatan………………………………………………….    15
B.        Pembahasan………………………………………………………..   17

BAB V      PENUTUP

A.       Kesimpulan…………………………………………………………. 20
B.        Saran ………………………………………………………………  20

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

PRAKATA
ﺒﺴﻡﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﺤﻴﻡ
Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penyusunan laporan praktikum lapangan ini dapat terselesaikan dengan baik sebagai salah satu syarat untuk memperoleh nilai pada mata kuliah Hidrobiologi pada Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Haluoleo.
Penulisan laporan praktikum lapangan ini merupakan bukti telah dilaksanakannya praktikum lapangan dengan judul Kelimpahan Gastropoda di Daerah Estuaria Pantai Nambo  Kecamatan Abeli Kota Kendari”.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa seluruh penyusunan laporan praktikum lapangan ini senantiasa mendapat bantuan dan petunjuk dari berbagai pihak. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada team asisten yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan hingga terselesaikannya laporan praktikum lapangan ini.
Akhir kata, semoga segala kebaikan dan bantuan yang diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Allah SWT dan semoga laporan praktikum lapangan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Kendari,   Januari 2012
Penulis

 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Gastropoda merupakan kelompok hewan dari filum Mollusca.  Nama Gastropoda berasal dari bahasa Latin gaster yang berarti perut  dan podos yang berarti kaki, jadi, Gastropoda merupakan kelompok hewan invertebra, bertubuh lunak, yang berjalan dengan perut sebagai alat gerak atau kakinya. Hewan ini memiliki ciri khas berkaki lebar dan pipih pada bagian ventral tubuhnya. Gastropoda bergerak lambat menggunakan kakinya. Hewan ini memiliki bagian kepala yang jelas yang dilengkapi dengan tentakel dan kepala.
Gastropoda merupakan Mollusca yang mengalami modifikasi dari bentuk bilateral simetris menjadi bentuk yang mengadakan rotasi (pembelitan). Di dalam pembelitan terjadi perubahan sudut 1800 (Jasin, 1987: 138). Gastropoda sering pula disebut sebagai univalvia sebab memiliki cangkang tunggal, dimana cangkang itu berputar yang menyebabkan semua organ tubuhnya juga terpilin (Kimball, 1999: 108)
1
 
Gastropoda merupakan kelompok terbesar dari filum Mollusca, dimana lebih dari 40.000 spesies yang hidup (Campbell, 2000:225). Walaupun banyak spesises dari filum ini yang merugikan,namun banyak juga dari beberapa jenis Gastropoda yang menguntungkan, misalnya dijadikan bahan makanan.
Gastropoda  merupakan kelas yang paling dapat dengan mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya dari filum Mollusca, sehingga Gastropoda ini dapat ditemukan diberagam tempat mulai dari daratan, air tawar, daerah berpasir, laut, daerah payau, bahkan di daerah estuaria.
Daerah estuaria merupakan daerah pertemuan antara air tawar dan air laut. Daerah estuaria ini seringkali berbatasan dengan lahan basah pesisir yang disebut hamparan lumpur dan rawa asin (Campbell, 2004: 283). Di wilayah ini terjadi percampuran antara masa air laut dengan air tawar dari daratan, sehingga air menjadi payau dengan salinitas berkisar antara 5 – 16,5 ‰. Bercampurnya masa air laut dengan air tawar menjadikan wilayah estuaria memiliki keunikan tersendiri, yaitu dengan terbentuknya air payau dengan salinitas yang berfluktuasi.
Pada daerah estuaria terjadi perubahan lingkungan yang meliputi perubahan salinitas yang disebabkan oleh pengaruh pasang surut air laut dan perubahan musim. Perubahan kondisi ligkungan ini menyebabkan ada variasi jumlah spesies Gastropoda yang ditemukan di daerah estuaria tersebut.  Namun demikian daerah estuaria ini menerima nutrient yang terbawa oleh sungai, sehingga daerah estuaria menjadi daerah produktif yang menyebabkan daerah ini ditempati oleh berbagai jenis hewan termasuk Gastropoda.
Berdasarkan hal-hal di atas maka dilakukan suatu penelitian tentang ”Kelimpahan Gastropoda Di Daerah Estuaria Pantai Nambo, Kecamatan Abeli, Kota Kendari”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dari praktikum ini yaitu apakah spesies Gastropoda yang terdapat di daerah estuaria pantai Nambo, kecamatan Abeli kota Kendari memiliki kelimpahan spesies yang tinggi?
C.    Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui kelimpahan spesies Gastropoda yang ada di daerah estuaria pantai Nambo, kecamatan Abeli kota Kendari.
D.    Manfaat
Manfaat dari praktikum ini yaitu:
1.      Sebagai bahan pertimbangan bagi para nelayan dalam pemilihan lokasi pencarian jenis-jenis Gastropoda.
2.      Sebagai bahan referensi yang relevan untuk praktikum selanjutnya
3.      Melatih diri penulis dalam mengembangkan ide dan gagasan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.    Kajian Teori
1.      Karakteristik Gastropoda
            Gastropoda merupakan Molusca yang mengalami modifikasi dari bentuk bilateral simetris menjadi bentuk yang mengadakan rotasi (pembeitan). Di daam pembelitan terjadi perubahan sudut 1800. Gastropoda sebenarnya juga merupakan hewan air walaupun beberapa hidup di darat. Untuk menghindari kekeringan tubuh, hewan ini membuat cangkok dan cangkok inilah tempat hewan ini berteduh dalam keadaan yang merugikan. Cangkok akan ditutup dengan menutup yang disebut epiphragma (Jasin, 1987 : 138).
                        Cangkang gastropoda berbentuk spiral. Kaki untuk merayap, bentuk kepaka jelas, dengan tentakel dan mata. Dalam ruang bukal (pipi) terdapat radua (pita bergigi). Bernapas dengan insang dan paru-paru atau kedua-duanya. Habitatnya di laut, air tawar, dan di darat. Kelamin terpisah atau hermaprodit, ovipar atau ovovivipar. Perkembangan tipikal menyangkut larva trokopor dan larva veliger (larva trokofor bersilia) (Brotowidjoyo, 1990: 112).
4
                        Gastropoda disebut juga univalvia karena cangkangnya yang tunggal. Cangkang ini bisa berputar, seperti juga dengan semua organ dalam tubuh hewan tersebut. Pada hewan dewasa tidak terdapat bidang simetri meskipun hewan-hewan ini berkembang dari larva yang simetris bilateral. Hewan ini mempunyai kepala yang jelas dengan dua mata yang rsering kali terdapat di atas tangkai (Kimball, 1999: 908).
                        Karakteristik gastropoda yang paling khas adalah suatu proses yang dikenal sebagai torsi (torsion). Selama perkembangan  suatu otot asimetris terbentuk , dan satu sisi dari masa viseral tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan yang lain. Kontraksai otot itu dan pertumbuhan yang tidak merata tersebut menyebabkan masa viseral berotasi sampai 1800 , sedemikian rupa sehingga anus dan rongga mantel, ditempatkan di atas kepala pada hewan dewasa. Sebagian besar Gastropoda terlindung dalam cangkang tunggal berbentuk spiral tempat hewan itu dapat masuk menarik diri ketika ada ancaman (Campbell, 2002: 225).
Gastropoda ada yang hidup di darat, air tawar, maupun air laut. Anggota kelas ini adalah yang terbesar dari fillum Mollusca, yaitu sekitar 35.000 – 50.000 spesies, yang masih hidup dan sekitar 15.000 jenis yang telah menjadi fosil. Karena jenis Gastropoda ini sangat banyak, maka hewan ini mudah ditemukan. Ciri-ciri Gastropoda mempunyai cangkang (sekaligus berfungsi sebagai rumahnya) yang berbentuk kerucut dan berpilin-pilin (spiral), ke arah kanan atau kiri dan tubuhnya akan menyesuaikan diri dengan bentuk cangkang itu. Meski pada waktu masih dalam tahap larva, bentuk tubuhnya simetri bilateral (http://smart-pustaka.blogspot.com/2010/12/gastropoda.html).

2.      Daerah Estuaria
            Estuaria berasal dari kata aetus yang artinya pasang-surut. Estuaria didefinisikan sebagai badan air di wilayah pantai yang setengah tertutup, yang berhubungan dengan laut bebas. Oleh karena itu ekosistem ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut dan air laut bercampur dengan air darat yang menyebabkan salinitasnya lebih rendah daripada air laut. Muara sungai, rawa pasang-surut, teluk di pantai dan badan air di belakang pantai pasir temasuk estuaria. Estuaria adalah wilayah pesisir semi tertutup yang mempunyai hubungan bebas dengan laut terbuka dan menerima masukan air tawar dari daratan. Sebagian besar estuaria didominasi oleh substrat berlumpur yang merupakan endapan yang dibawa oleh air tawar dan air laut. Contoh dari estuaria adalah muara sungai, teluk dan rawa pasang-surut  (http://estuaria/ekosistem-estuari.html).
            Di wilayah estuaria ini terjadi percampuran antara masa air laut dengan air tawar dari daratan, sehingga air menjadi payau dengan salinitas berkisar antara 5 – 16,5 persen.  Wilayah ini meliputi muara sungai dan delta-delta besar, hutan mangrove dekat estuaria dan hamparan lumpur dan pasir yang luas. Wilayah ini juga dapat dikatakan sebagai wilayah yang sangat dinamis, karena selalu terjadi proses dan perubahan baik lingkungan fisik maupun biologis. Bercampurnya masa air laut dengan air tawar menjadikan wilayah estuaria memiliki keunikan tersendiri, yaitu dengan terbentuknya air payau dengan salinitas yang berfluktuasi. Perubahan salinitas ini dipengauhi oleh air pasang dan surut serta musim. Selama musim kemarau, volume air sungai berkurang sehingga air laut dapat masuk sampai ke arah hulu, dan menyebabkan salinitas di wilayah estuaria menjadi meningkat. Pada musim penghujan air tawar mengalir dari hulu ke wilayah estuaria dalam jumlah besar, sehingga sanilitas menjadi turun/rendah.                                (http://G:/estuaria/definisi_estuaria.html).
Estuaria selalu dipengaruhi oleh aliran air tawar maupun air laut. Adanya aliran air tawar yang terjadi terus menerus dari hulu sungai dan adanya proses gerakan air akibat arus pasang surut yang mengangkut mineral-mineral, bahan organik dan sedimen merupakan bahan dasar yang dapat menunjang produktifitas perairan di wilayah estuaria yang melebihi produktifitas laut lepas dan perairan air tawar (file:///D:/estuaria/DINAMIKA/ESTUARIA/Zalfa/Aqilah.htm)
Daerah estuaria seringkali berbatasan dengan lahan basah pesisir yang disebut hamparan lumpur dan rawa asin. Salinitas atau kadar garam bervariasi berdasarkan ruang di estuaria, mulai dari hampir seperti air tawar hingga salinitas air laut. Salinitas juga bervariasi selama satu hari mengikuti pasang surut. daerah estuaria merupakan daerah produktif karena banyaknya nutrien yang dikandungnya yang terbawa karena adanya aliran sungai. Sehingga banyak organisme yang hidup dan mencari makan di daerah estuaria ini (Campbell, 2004: 283).
Estuaria merupakan ekosistem khas yang pada umumnya terdiri atas hutan mangrove, gambut, rawa payau dan daratan lumpur. Sebagaian besar estuaria didominasi oleh substrat berlumpur yang merupakan endapan yang dibawa oleh air tawar dan air laut. Jumlah organisme yang mendiami estuaria jauh lebih sedikit dibandingkan dengan organisme yang hidup di perairan tawar dan laut, hal ini disebabkan karena adanya fluktuasi kondisi lingkungan sehingga hanya spesies yang memiliki adaptasi khas yang mampu bertahan hidup (file:///D:/estuaria/deskripsi-umum-estuaria.html).
B.     Kerangka Pemikiran
Gastropoda merupakan kelas dari filum Mollusca dengan jumlah spesies terbesar yaitu sekitar 40.000 spesies. Kelas Gastropoda ini merupakan kelas yang paling mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungannya dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya dari filum Mollusca. Sehingga Gastropoda ini dapat ditemukan di berbagai tempat baik daratan, laut, payau, air tawar mapun daerah estuaria. Di daerah estuaria pantai Nambo Kecamatan Abeli, kota Kendari, dapat ditemukan beragam spesies Gastropoda, dimana kelimpahan dari tiap spesies-spesies itu berbeda-beda.
Jumlah spesies dari Gastropoda yang menempati suatu kawasan tertentu memiliki tingkat kelimpahan yang berbeda-beda,  tergantung kemampuan spesies itu dalam beradaptasi dengan lingkungannya, baik itu lingkungan laut, darat, payau, maupun estuaria. Guna mengetahui kelimpahan Gastropoda, maka dilakukan pengamatan dikawasan estuaria Pantai Nambo, Kecamatan Abeli, Kota Kendari.




 






kelimpahan
 
 

BAB III



METODOLOGI PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan di daerah estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari pada tanggal 14 Januari 2012, kemudian dilanjutkan di Laboratorium Pengembangan Unit Biologi, Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo, Kendari.
B.     Variabel, Definisi Operasional
1.      Variabel Praktikum
a.      Variabel bebas (X)yaitu kelimpahan Gastropoda yang terdapat di daerah estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari.
b.      Variabel terikat (Y) yaitu daerah estuaria di Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari.
2.      Definisi Operasional
a.      Daerah estuaria merupakan daerah  percampuran antara air darat dan air laut.
b.      Kelimpahan Gastropoda yaitu banyaknya jumlah spesies Gastropoda pada suatu kawasan tertentu.

C.    Populasi dan Sampel
1.      Populasi  dalam  praktikum  ini yaitu seluruh spesies Gastropoda yang hidup di daerah estuaria Pantai Nambo, Kecamatan Abeli, Kota Kendari.
2.      Sampel dalam praktikum ini yaitu seluruh spesies Gastropoda yang terdapat di dalam  petak transek di daerah estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari.
D.    Metode dan Desain Praktikum
1.      Metode Praktikum
Metode yang dilakukan dalam praktikum yaitu metode penempatan plot yaitu dengan membuat plot-plot pada setiap transek pengamatan.
2.      Desain  Praktikum
Desain praktikum ini adalah penggunaan transek pengamatan  sebanyak 3 buah transek yang di dalam  tiap transek dibuat 5 plot-plot pengambilan sampel pengamatan., sehingga secara keseluruhan terdapat 15 kali pengambilan data.






Gambar 1. Desain praktikum
a
1
5

2
4

3

 












Keterangan :  a.      Transek pengamatan
1 – 5 Plot pengamtan

E.    Instrumen dan Prosedur Pengumpulan Data
1.      Instrumen Praktikum
Tabel 1 Alat dan Kegunaannnya
No.
Alat
Kegunaan
1.
Botol Film
Menyimpan sampel yang ditemukan dalam pengamatan.
2.
Thermometer
Mengukur suhu lingkungan area pengamatan
3.
Endrefraktoslinometer
Mengukur salinitas air pada area pengamatan.
4.
Saringan
Menyaring sampel dalam pasir atau lumpur.
5.
Kuadran 30x30 cm
Membuat plot-plot pengamatan



 Tabel 2. Bahan dan Kegunaannya

No.
Bahan
Kegunaan
1.
Kertas label
Memberi label pada botol film tempat pnyimpanan sampel pengamatan
2.
Tali rafia
Membuat transek pengamatan
3.
Kantung kresek
Menyimpan sampel yang ditemukan.

2.      Prosedur Pengumpulan Data
a.       Teknik Pengumpulan Data
1.      Melakukan observasi area pengamatan
2.      Memilih lokasi pengamatan yitu pada daerah estuaria
3.      Membuat transek pengamatan sebanyak 3 buah yang di dalam tiap transek dibuat 5 plo-plot pengamatan
4.      Mengukur parameter lingkungan pada tiap transek pengamatan yang berupa suhu lingkungan.
b.      Pengumpulan Data
1.      Mengambil setiap sampel spesies Gastropoda yang ditemukan disetiap plot pengamatan.
2.      Memasukkan setiap sampel pengamatan yang diperoleh ke dalam botol film.
3.      Mengidentifikasi spesies Gastropoda yang ditemukan di Laboratorium Pengembangan Unit Biologi dengan mengacu pada buku determinasi (Dance, 1992; Dharma, 1988; Hyman, 1995).
4.      Menghitung jumlah dari setiap spesies yang diperoleh menurut transek dan plot pengamatan kemudian memasukkannnya dalam tabel pengamatan.
5.      Menghitung kelimpahan dari setiap spesies yang diperoleh.
F.     Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digubnakan adalah teknik deskriptif dengan menggunakan rumus berikut:
Kelimpahan = jumlah total individu ke/ jumlah kuadrat tempat spesies ke-i berada
(Michael, 1994 dalam Syahrir Hasana, 2010: 37).

 
DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjoyo, M., 1990. Zoologi Dasar. Erlangga. Yogyakarta.
Campbell, 2002. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
                 2004.  Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta.
Dance, P.S., 1992. Shell. Darling Kindersley Limited. London.
Dharma, B., 1988. Siput dan Kerang ndonesia (Indonesian Shell). PT. Sarana Graha. Jakarta.
Jasin, M., 1987. Sistematika Hewan Invertebrata dan Vertebrata. Sinar Wijaya. Surabaya.
Kimball, J.W., 1999. Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta.



                       
 
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
1.         Deskripsi Lokasi Pengamatan
Keluran Nambo merupakan wilayah yang terletak di Kecamatan Abeli Kota Kendari, daerah ini secara geografis berbatasan dengan keluruhan Bungkutoko disebelah utara, sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Sambuli, sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Konawe Selatan, dan sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Petoaha.
Secara administrasi kelurahan Nambo memiliki luas wilayah ± 10.000 m2 (data kelurahan Nambo, 2008). Sebagian besar wilayah daerah Nambo berada di pesisir pantai. Di wilayah perairan ini terdapat daerah estuaria. Daerah estuaria ini memiliki substrat berupa lumpur berpasir.
2.         Faktor-Faktor Lingkungan

15
Lingkungan di daerah perairan akan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu karena adanya berbagai faktor lingkungan yang turut berpengaruh di dalamnya. Pada daerah estuaria yang merupakan daerah pertemuan antara air laut dan air tawar, perubahan kondisi lingkungan akan selalu terjadi karena adanya pengaruh pasang surut. perubahan ini meliputi perubahan suhu lingkungan aupun perubahan salinitas. Perubahan salinitas sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut serta perubahan musim.  Selama musim kemarau, volume air sungai berkurang sehingga air laut dapat masuk sampai ke arah hulu, dan menyebabkan salinitas di wilayah estuaria menjadi meningkat. Pada musim penghujan air tawar mengalir dari hulu ke wilayah estuaria dalam jumlah besar, sehingga sanilitas menjadi turun/rendah. Perubahan kondisi lingkungan ini akan memberikan pengaruh terhadap kehadiran organisme yang ada di daerah itu, termasuk kehadiran hewan Gastropoda.
Kisaran parameter fisik dan kimia perairan pada setiap transek pengamatan meliputi suhu lingkungan.
a.    Suhu lingkungan
Berdasarkan hasil pengukuran terhadap suhu lingkungan di daerah estuaria pantai Nambo diketahui bahwa suhu lingkungan pada transek 1  yaitu 320C sedang pada transek 2 dan transek 3 yaitu 31,50C.
3.      Tabel Pengamatan
Tabel 3. Jumlah individu dan kelimpahan individu tiap jenis Gastropoda pada setiap transek pengamatan pada daerah estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari.

NO
Nama Spesies
Jumlah individu (ind)
Kelimpahan (ind/m2)
1
Terebralia palustris
247
16,466
2
Terebralia sulcata
22
3,14
3
Pleurocera sp.
1
1
4
Littoridina sp.
6
2
5
Somatogyrus sp.
1
1
6
Nerita squamulata
1
1
7
Cochliopa riograndensis
18
4,5


∑ = 296

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa hasil pengamatan terhadap komunitas Gastropoda yang terdapat di daerah estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari terdiri atas 7 spesies yaitu Terebralia palustris, Terebralia sulcata, Pleurocera sp., Littoridina sp., Somatogyrus sp., Nerita squamulata, Cochliopa riograndensis. Dari data juga diketahui bahwa nilai kelimpahan spesies Gastropoda pada daerah estuaria Pantai Nambo yaitu 1 ind/ m2 - 16,466 ind/ m2, dimana kelimpahan spesies Gastropoda tertinggi terdapat pada Terebralia palustris yaitu 16,466 ind/ m2 sedang kelimpahan terendah terdapat pada spesies Pleurocera sp.,  Somatogyrus sp., dan  Nerita squamulata  yaitu      1 ind/ m2.
B.     Pembahasan

Daerah estuaria merupakan daerah pertemuan antara air laut dan air, dimana daerah ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pengaruh pasang surut ini mempengaruhi tingkat salinitas dari daerah estuaria ini. Namun demikian daerah estuaria merupakan daeran dengan produktivitas tinggi, sebab mengandung banyak nutrien-nutrien yang ikut terbawa oleh aliran sungai. Sehingga di daerah estuaria ini banyak ditemukan beragam spesies hewan diantaranya hewan-hewan Gastropoda.
Kelimpahan spesies Gastropoda yang ditemukan di daerah estuaria ini sangat beragam, karena kehadiran spesies-spesies Gastropoda ini sangat dipengaruhi oleh kondisi kondisi lingkungan seperti salinitas, suhu, substrat yang selalu berubah-ubah. Spesies dengan kelimpahan tinggi dianggap mampu dengan mudah untuk berinteraksi baik secara interspesifik maupun intraspesifik dalam memperebutkan berbagai nutrien-nutrien yang menunjang kehidupannya, selain itu organisme tersebut memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya, begitu pula sebaliknya.
Berdasarkan hasil pengamatan dan penghitungan kelimpahan spesies Gastropoda yang terdapat pada daerah estuaria Pantai Nambo diketahui bahwa speises Terebralia palustris memiliki kelimpahan tertinggi yaitu 16,466 ind/ m2. Hal ini di duga karena spesies ini mampu hidup dengan baik pada kondisi lingkungan di daerah estuaria dan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan di daerah estuaria yang selalu berubah-ubah. Sedangkan kelimpahan terendah terdapat pada spesies Pleurocera sp.,  Somatogyrus sp., Nerita squamulata  yaitu 1 ind/ m2. Hal ini di duga karena hewan- hewan ini dianggap tidak terlalu dapat berkopetisi dengan spesies lainnya dan juga kurang mampu untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah-ubah. Tingginya kelimpahan suatu spesies pada suatu lingkungan menandakan bahwa lingkungan itu cocok bagi habitat spesies tersebut, begitu pula sebaliknya.
Spesies Terebralia palustris merupakan spesies yang yang hidup di daerah lumpur berpasir, sehingga hewan ini dapat hidup pada daerah estuaria yang merupakan kawasan dengan substrat berupa daerah lumpur berpasir, dimana lumpur ini  ikut terbawa bersama air sungai. Sehingga Terebralia palustris memiliki nilai kelimpahan yang tinggi. Sedangkan  Pleurocera sp.,  Somatogyrus sp., Nerita squamulata  hidup pada daerah sungai dan juga pada daerah berpasir, sehingga hewan-hewan ini memiliki kemampuan yang kurang dalam beradaptasi dengan lingkungan estuaria yang merupakan percampuran antara air tawar dan air laut dengan substrat berupa lumpur berpasir. Sehingga kelimpahan spesies-spesies ini sangat rendah.


                                                                                   
BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
 Kesimpulan dari praktikum ini yaitu :
1.      Kelimpahan spesies Gastropoda di kawasan estuaria sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan yaitu suhu, salinitas dan substrat
2.      Kelimpahan spesies Gastropoda di kawasan estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari, tertinggi yaitu Terebralia palustris yaitu     16,466 ind/m2 sedang kelimpahan spesies terendah yaitu Pleurocera sp., Somatogyrus sp., dan Nerita squamulata yaitu 1 ind/m2.
B.     Saran
      Sebaiknya untuk mendukung kehidupan organisme disekitar daerah estuaria khususnya Gastropoda, maka perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang pengaruh komunitas Gastropoda pada ekosistem estuaria di pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari ditinjau dari segi lainnya.


 
DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjoyo, M., 1990. Zoologi Dasar. Erlangga. Yogyakarta.
Campbell, 2002. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
                 2004.  Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta.
Dance, P.S., 1992. Shell. Darling Kindersley Limited. London.
Dharma, B., 1988. Siput dan Kerang Indonesia (Indonesian Shell). PT. Sarana Graha. Jakarta.
Jasin, M., 1987. Sistematika Hewan Invertebrata dan Vertebrata. Sinar Wijaya. Surabaya.
Kimball, J.W., 1999. Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta.








Template by:

Free Blog Templates