LAPORAN HASIL PRAKTIKUM HIDROBIOLOGI
“KELIMPAHAN GASTROPODA DI DAERAH ESTUARIA PANTAI
NAMBO KECAMATAN ABELI KOTA KENDARI”
OLEH
KELOMPOK XI
ANGGOTA
1. SUHARNO (A1C2 08 )
2. MARTINI (A1C2 08 031)
3. FITRIYA (A1C2 08 080)
4. SUFARLIYANTI (A1C2 08 0)
5. PITRIYANTI (A1C2 08 0)
6. WD. SILFIA (A1C2 08 0)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012
ABSTRAK
KELOMPOK
XI (SUHARNO, MARTINI, FITRIYA, SUFARLIYANTI, PITRIYANTI, WD. SILFIA)
“Kelimpahan Gastropoda di Daerah Estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota
Kendari”.
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui mengetahui kelimpahan spesies
Gastropoda yang ada di daerah estuaria pantai Nambo, kecamatan Abeli kota
Kendari. Praktikum ini dilaksanakan di daerah estuaria Pantai Nambo Kecamatan
Abeli Kota Kendari kemudian dilanjutkan di Laboratorium Pengembangan Unit
Biologi FKIP UNHALU Kendari, pada tanggal 14 Januari 2012. Variabel penelitian
ini terdiri dari variabel bebas (X) berupa penghitungan kelimpaan Gastropoda
dan variabel terikat (Y) yaitu daerah estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli
Kota Kendari. Metode yang dilakukan pada praktikum ini adalah metode penempatan
plot dengan desain penggunaan transek pengamatan sebanyak 3 buah transek yang di dalam tiap transek dibuat 5 plot-plot pengambilan
sampel pengamatan., sehingga secara keseluruhan terdapat 15 kali pengambilan
data. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif. Hasil
perhitungan kelimpahan diperoleh bahwa kelimpahan speises Terebralia palustris tertinggi yaitu 16,466 ind/ m2 dan
kelimpahan spesies terendah yaitu Pleurocera
sp., Somatogyrus sp., Nerita
squamulata yaitu 1 ind/ m2.
Kata Kunci : Daerah estuaria,
kelimpahan, Gastropoda.
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………… i
ABSTRAK………………………………………………………………………. ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………….. iii
PRAKTA…………………………………………………………………………. iv
DAFTAR ISI…………………………………………………………………….. iii
PRAKTA…………………………………………………………………………. iv
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang…………………………………………………….. 1
B.Rumusan Masalah………………………………………………….. 3
C.Tujuan Praktikum………………………………………………….. 3
D.
Manfaat
Praktikum……………………………………………….... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.
Kajian
Teori……………………………………………………….. 4
B.
Kerangka
Pemikiran………………………………………………. 8
BAB III METODOLOGI PRKTIKUM
A.
Waktu
dan Tempat………………………………………………… 10
B.
Variabel
Penelitian, Definisi Operasional………………………… 10
C.
Populasi
dan Sampel Praktikum…………………………………..
11
D.
Metode
dan Desain Praktikum……………………………………
11
E.
Instrumen
Penelitian dan Prosedur Pengumpulan Data……………
12
F.
Teknik
Analisis Data………………………………………………. 14
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Pengamatan…………………………………………………. 15
B.
Pembahasan……………………………………………………….. 17
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan………………………………………………………….
20
B.
Saran
……………………………………………………………… 20
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
PRAKATA
ﺒﺴﻡﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﺤﻴﻡ
Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga
penyusunan laporan praktikum lapangan ini dapat terselesaikan dengan baik sebagai salah satu
syarat untuk memperoleh nilai pada mata kuliah Hidrobiologi pada Program Studi Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Haluoleo.
Penulisan laporan praktikum lapangan ini merupakan bukti telah dilaksanakannya praktikum
lapangan dengan judul “Kelimpahan Gastropoda di Daerah Estuaria Pantai
Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari”.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa seluruh penyusunan laporan praktikum
lapangan ini senantiasa
mendapat bantuan dan petunjuk dari berbagai pihak. Penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada team asisten yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan hingga
terselesaikannya laporan praktikum lapangan ini.
Akhir
kata, semoga segala kebaikan dan bantuan yang diberikan kepada penulis mendapat
balasan dari Allah SWT dan semoga
laporan praktikum
lapangan ini dapat
bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Kendari,
Januari
2012
Penulis
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Gastropoda
merupakan kelompok hewan dari filum Mollusca.
Nama Gastropoda berasal dari bahasa Latin gaster yang berarti perut dan podos yang berarti kaki, jadi, Gastropoda merupakan kelompok hewan
invertebra, bertubuh lunak, yang berjalan dengan perut sebagai alat gerak atau
kakinya. Hewan ini memiliki ciri khas berkaki lebar dan pipih pada bagian
ventral tubuhnya. Gastropoda bergerak lambat menggunakan kakinya. Hewan ini
memiliki bagian kepala yang jelas yang dilengkapi dengan tentakel dan kepala.
Gastropoda merupakan Mollusca yang mengalami modifikasi
dari bentuk bilateral simetris menjadi bentuk yang mengadakan rotasi (pembelitan).
Di dalam pembelitan terjadi perubahan sudut 1800 (Jasin, 1987: 138).
Gastropoda sering pula disebut sebagai univalvia sebab memiliki cangkang
tunggal, dimana cangkang itu berputar yang menyebabkan semua organ tubuhnya
juga terpilin (Kimball, 1999: 108)
|
Gastropoda
merupakan kelas yang paling dapat dengan mudah beradaptasi dengan
kondisi lingkungan dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya dari filum Mollusca,
sehingga Gastropoda ini dapat ditemukan diberagam tempat mulai dari daratan,
air tawar, daerah berpasir, laut, daerah payau, bahkan di daerah estuaria.
Daerah estuaria merupakan daerah pertemuan antara air
tawar dan air laut. Daerah estuaria ini seringkali berbatasan dengan lahan
basah pesisir yang disebut hamparan lumpur dan rawa asin (Campbell, 2004: 283).
Di
wilayah ini terjadi percampuran antara masa air laut dengan air tawar dari
daratan, sehingga air menjadi payau dengan salinitas berkisar antara 5 – 16,5 ‰.
Bercampurnya masa air laut dengan air tawar menjadikan wilayah
estuaria memiliki keunikan tersendiri, yaitu dengan terbentuknya air payau
dengan salinitas yang berfluktuasi.
Pada daerah
estuaria terjadi perubahan lingkungan yang meliputi perubahan salinitas yang
disebabkan oleh pengaruh pasang surut air laut dan perubahan musim. Perubahan kondisi ligkungan ini
menyebabkan ada variasi jumlah spesies Gastropoda yang ditemukan di daerah
estuaria tersebut. Namun demikian daerah estuaria ini menerima nutrient yang terbawa oleh
sungai, sehingga daerah estuaria menjadi daerah produktif yang menyebabkan
daerah ini ditempati oleh berbagai jenis hewan termasuk Gastropoda.
Berdasarkan hal-hal di atas maka dilakukan suatu
penelitian tentang ”Kelimpahan Gastropoda Di Daerah Estuaria Pantai Nambo,
Kecamatan Abeli, Kota Kendari”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas,
maka rumusan masalah dari praktikum ini yaitu apakah spesies Gastropoda yang
terdapat di daerah estuaria pantai Nambo, kecamatan Abeli kota Kendari memiliki
kelimpahan spesies yang tinggi?
C.
Tujuan
Praktikum
Tujuan dari praktikum ini yaitu
untuk mengetahui kelimpahan spesies Gastropoda yang ada di daerah estuaria
pantai Nambo, kecamatan Abeli kota Kendari.
D.
Manfaat
Manfaat dari praktikum ini yaitu:
1. Sebagai
bahan pertimbangan bagi para nelayan dalam pemilihan lokasi pencarian
jenis-jenis Gastropoda.
2. Sebagai
bahan referensi yang relevan untuk praktikum selanjutnya
3. Melatih
diri penulis dalam mengembangkan ide dan gagasan
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Kajian
Teori
1. Karakteristik Gastropoda
Gastropoda
merupakan Molusca yang mengalami modifikasi dari bentuk bilateral simetris
menjadi bentuk yang mengadakan rotasi (pembeitan). Di daam pembelitan terjadi
perubahan sudut 1800. Gastropoda sebenarnya juga merupakan hewan air
walaupun beberapa hidup di darat. Untuk menghindari kekeringan tubuh, hewan ini
membuat cangkok dan cangkok inilah tempat hewan ini berteduh dalam keadaan yang
merugikan. Cangkok akan ditutup dengan menutup yang disebut epiphragma (Jasin,
1987 : 138).
Cangkang gastropoda
berbentuk spiral. Kaki untuk merayap, bentuk kepaka jelas, dengan tentakel dan
mata. Dalam ruang bukal (pipi) terdapat radua (pita bergigi). Bernapas dengan
insang dan paru-paru atau kedua-duanya. Habitatnya di laut, air tawar, dan di
darat. Kelamin terpisah atau hermaprodit, ovipar atau ovovivipar. Perkembangan
tipikal menyangkut larva trokopor dan larva veliger (larva trokofor bersilia)
(Brotowidjoyo, 1990: 112).
4
|
Karakteristik
gastropoda yang paling khas adalah suatu proses yang dikenal sebagai torsi
(torsion). Selama perkembangan suatu otot asimetris terbentuk , dan satu
sisi dari masa viseral tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan yang lain.
Kontraksai otot itu dan pertumbuhan yang tidak merata tersebut menyebabkan masa
viseral berotasi sampai 1800 , sedemikian rupa sehingga anus dan
rongga mantel, ditempatkan di atas kepala pada hewan dewasa. Sebagian besar
Gastropoda terlindung dalam cangkang tunggal berbentuk spiral tempat hewan itu
dapat masuk menarik diri ketika ada ancaman (Campbell, 2002: 225).
Gastropoda ada yang hidup di darat, air tawar, maupun air
laut. Anggota kelas ini adalah yang terbesar dari fillum Mollusca, yaitu sekitar 35.000 – 50.000 spesies, yang masih
hidup dan sekitar 15.000 jenis yang telah menjadi fosil. Karena jenis
Gastropoda ini sangat banyak, maka hewan ini mudah ditemukan. Ciri-ciri Gastropoda mempunyai
cangkang (sekaligus berfungsi sebagai rumahnya) yang berbentuk kerucut dan
berpilin-pilin (spiral), ke arah kanan atau kiri dan tubuhnya akan menyesuaikan
diri dengan bentuk cangkang itu. Meski pada waktu masih dalam tahap larva,
bentuk tubuhnya simetri bilateral (http://smart-pustaka.blogspot.com/2010/12/gastropoda.html).
2.
Daerah
Estuaria
Estuaria berasal dari kata aetus
yang artinya pasang-surut. Estuaria didefinisikan sebagai badan air di wilayah pantai yang setengah tertutup,
yang berhubungan dengan laut bebas. Oleh karena itu ekosistem ini sangat
dipengaruhi oleh pasang surut dan air laut bercampur dengan air darat yang
menyebabkan salinitasnya lebih rendah daripada air laut. Muara sungai, rawa
pasang-surut, teluk di pantai dan badan air di belakang pantai pasir temasuk
estuaria. Estuaria
adalah wilayah pesisir semi tertutup yang mempunyai hubungan bebas dengan laut
terbuka dan menerima masukan air tawar dari daratan. Sebagian besar estuaria
didominasi oleh substrat berlumpur yang merupakan endapan yang dibawa oleh air
tawar dan air laut. Contoh dari estuaria adalah muara sungai, teluk dan rawa
pasang-surut (http://estuaria/ekosistem-estuari.html).
Di
wilayah estuaria ini terjadi percampuran antara masa air laut dengan air tawar
dari daratan, sehingga air menjadi payau dengan salinitas berkisar antara 5 –
16,5 persen. Wilayah ini meliputi
muara sungai dan delta-delta besar, hutan mangrove dekat estuaria dan hamparan
lumpur dan pasir yang luas. Wilayah ini juga dapat dikatakan sebagai wilayah
yang sangat dinamis, karena selalu terjadi proses dan perubahan baik lingkungan
fisik maupun biologis. Bercampurnya masa air laut dengan air tawar menjadikan
wilayah estuaria memiliki keunikan tersendiri, yaitu dengan terbentuknya air
payau dengan salinitas yang berfluktuasi. Perubahan salinitas ini dipengauhi
oleh air pasang dan surut serta musim. Selama musim kemarau, volume air sungai
berkurang sehingga air laut dapat masuk sampai ke arah hulu, dan menyebabkan
salinitas di wilayah estuaria menjadi meningkat. Pada musim penghujan air tawar
mengalir dari hulu ke wilayah estuaria dalam jumlah besar, sehingga sanilitas
menjadi turun/rendah. (http://G:/estuaria/definisi_estuaria.html).
Estuaria selalu dipengaruhi oleh aliran air tawar
maupun air laut. Adanya aliran air tawar yang terjadi terus menerus dari hulu
sungai dan adanya proses gerakan air akibat arus pasang surut yang mengangkut
mineral-mineral, bahan organik dan sedimen merupakan bahan dasar yang dapat
menunjang produktifitas perairan di wilayah estuaria yang melebihi
produktifitas laut lepas dan perairan air tawar (file:///D:/estuaria/DINAMIKA/ESTUARIA/Zalfa/Aqilah.htm)
Daerah estuaria seringkali berbatasan dengan lahan
basah pesisir yang disebut hamparan lumpur dan rawa asin. Salinitas atau kadar
garam bervariasi berdasarkan ruang di estuaria, mulai dari hampir seperti air
tawar hingga salinitas air laut. Salinitas juga bervariasi selama satu hari
mengikuti pasang surut. daerah estuaria merupakan daerah produktif karena
banyaknya nutrien yang dikandungnya yang terbawa karena adanya aliran sungai.
Sehingga banyak organisme yang hidup dan mencari makan di daerah estuaria ini
(Campbell, 2004: 283).
Estuaria merupakan ekosistem khas yang pada umumnya
terdiri atas hutan mangrove, gambut, rawa payau dan daratan lumpur. Sebagaian
besar estuaria didominasi oleh substrat berlumpur yang merupakan endapan yang
dibawa oleh air tawar dan air laut. Jumlah organisme yang mendiami estuaria
jauh lebih sedikit dibandingkan dengan organisme yang hidup di perairan tawar
dan laut, hal ini disebabkan karena adanya fluktuasi kondisi lingkungan
sehingga hanya spesies yang memiliki adaptasi khas yang mampu bertahan hidup (file:///D:/estuaria/deskripsi-umum-estuaria.html).
B.
Kerangka
Pemikiran
Gastropoda merupakan
kelas dari filum Mollusca dengan jumlah spesies terbesar yaitu sekitar 40.000
spesies. Kelas Gastropoda ini merupakan kelas yang paling mampu beradaptasi
dengan berbagai kondisi lingkungannya dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya
dari filum Mollusca. Sehingga Gastropoda ini dapat ditemukan di berbagai tempat
baik daratan, laut, payau, air tawar mapun daerah estuaria. Di daerah estuaria
pantai Nambo Kecamatan Abeli, kota Kendari, dapat ditemukan beragam spesies
Gastropoda, dimana kelimpahan dari tiap spesies-spesies itu berbeda-beda.
Jumlah spesies dari Gastropoda yang
menempati suatu kawasan tertentu memiliki tingkat kelimpahan yang berbeda-beda, tergantung kemampuan spesies itu dalam
beradaptasi dengan lingkungannya, baik itu lingkungan laut, darat, payau,
maupun estuaria. Guna mengetahui kelimpahan Gastropoda, maka dilakukan pengamatan
dikawasan estuaria Pantai Nambo, Kecamatan Abeli, Kota Kendari.
kelimpahan
|
METODOLOGI PRAKTIKUM
A.
Waktu
dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan di daerah estuaria Pantai Nambo
Kecamatan Abeli Kota Kendari pada tanggal 14 Januari 2012, kemudian dilanjutkan
di Laboratorium Pengembangan Unit Biologi, Fakultas keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Haluoleo, Kendari.
B.
Variabel,
Definisi Operasional
1. Variabel
Praktikum
a. Variabel
bebas (X)yaitu kelimpahan Gastropoda yang terdapat di daerah estuaria Pantai
Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari.
b. Variabel
terikat (Y) yaitu daerah estuaria di Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari.
2. Definisi
Operasional
a. Daerah
estuaria merupakan daerah percampuran
antara air darat dan air laut.
b. Kelimpahan
Gastropoda yaitu banyaknya jumlah spesies Gastropoda pada suatu kawasan tertentu.
C.
Populasi
dan Sampel
1. Populasi dalam
praktikum ini yaitu seluruh
spesies Gastropoda yang hidup di daerah estuaria Pantai Nambo, Kecamatan Abeli,
Kota Kendari.
2. Sampel
dalam praktikum ini yaitu seluruh spesies Gastropoda yang terdapat di
dalam petak transek di daerah estuaria
Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari.
D.
Metode
dan Desain Praktikum
1. Metode
Praktikum
Metode yang dilakukan dalam
praktikum yaitu metode penempatan plot yaitu dengan membuat plot-plot pada
setiap transek pengamatan.
2. Desain Praktikum
Desain praktikum ini adalah
penggunaan transek pengamatan sebanyak 3
buah transek yang di dalam tiap transek
dibuat 5 plot-plot pengambilan sampel pengamatan., sehingga secara keseluruhan
terdapat 15 kali pengambilan data.
Gambar
1. Desain praktikum
a
|
1
|
5
|
2
|
4
|
3
|
Keterangan
: a.
Transek pengamatan
1
– 5 Plot pengamtan
E.
Instrumen
dan Prosedur Pengumpulan Data
1. Instrumen
Praktikum
Tabel 1 Alat dan Kegunaannnya
No.
|
Alat
|
Kegunaan
|
1.
|
Botol Film
|
Menyimpan sampel yang ditemukan dalam pengamatan.
|
2.
|
Thermometer
|
Mengukur suhu lingkungan area
pengamatan
|
3.
|
Endrefraktoslinometer
|
Mengukur salinitas air pada
area pengamatan.
|
4.
|
Saringan
|
Menyaring sampel dalam pasir atau lumpur.
|
5.
|
Kuadran 30x30 cm
|
Membuat
plot-plot pengamatan
|
Tabel 2. Bahan dan Kegunaannya
No.
|
Bahan
|
Kegunaan
|
1.
|
Kertas
label
|
Memberi
label pada botol film tempat pnyimpanan sampel pengamatan
|
2.
|
Tali
rafia
|
Membuat
transek pengamatan
|
3.
|
Kantung kresek
|
Menyimpan sampel yang ditemukan.
|
2. Prosedur
Pengumpulan Data
a. Teknik
Pengumpulan Data
1. Melakukan
observasi area pengamatan
2. Memilih
lokasi pengamatan yitu pada daerah estuaria
3. Membuat
transek pengamatan sebanyak 3 buah yang di dalam tiap transek dibuat 5 plo-plot
pengamatan
4. Mengukur
parameter lingkungan pada tiap transek pengamatan yang berupa suhu lingkungan.
b. Pengumpulan
Data
1. Mengambil
setiap sampel spesies Gastropoda yang ditemukan disetiap plot pengamatan.
2. Memasukkan
setiap sampel pengamatan yang diperoleh ke dalam botol film.
3. Mengidentifikasi
spesies Gastropoda yang ditemukan di Laboratorium Pengembangan Unit Biologi
dengan mengacu pada buku determinasi (Dance, 1992; Dharma, 1988; Hyman, 1995).
4. Menghitung
jumlah dari setiap spesies yang diperoleh menurut transek dan plot pengamatan
kemudian memasukkannnya dalam tabel pengamatan.
5. Menghitung
kelimpahan dari setiap spesies yang diperoleh.
F.
Teknik
Analisis Data
Teknik analisis data yang
digubnakan adalah teknik deskriptif dengan menggunakan rumus berikut:
Kelimpahan = jumlah total individu ke/ jumlah kuadrat tempat spesies ke-i berada
(Michael, 1994 dalam Syahrir Hasana, 2010: 37).
DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjoyo, M., 1990. Zoologi
Dasar. Erlangga. Yogyakarta.
Campbell, 2002. Biologi Jilid 2.
Erlangga. Jakarta.
Dance, P.S., 1992.
Shell. Darling Kindersley Limited. London.
Dharma,
B., 1988. Siput dan Kerang ndonesia (Indonesian Shell). PT. Sarana Graha.
Jakarta.
Jasin,
M., 1987. Sistematika Hewan Invertebrata dan Vertebrata. Sinar Wijaya.
Surabaya.
Kimball, J.W., 1999.
Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Pengamatan
1.
Deskripsi Lokasi Pengamatan
Keluran
Nambo merupakan wilayah yang terletak di Kecamatan Abeli Kota Kendari, daerah
ini secara geografis berbatasan dengan keluruhan Bungkutoko disebelah utara,
sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Sambuli, sebelah selatan berbatasan
dengan kabupaten Konawe Selatan, dan sebelah barat berbatasan dengan kelurahan
Petoaha.
Secara
administrasi kelurahan Nambo memiliki luas wilayah ± 10.000 m2 (data
kelurahan Nambo, 2008). Sebagian besar wilayah daerah Nambo berada di pesisir
pantai. Di wilayah perairan ini terdapat daerah estuaria. Daerah estuaria ini
memiliki substrat berupa lumpur berpasir.
2.
Faktor-Faktor Lingkungan
15
|
Kisaran
parameter fisik dan kimia perairan pada setiap transek pengamatan meliputi suhu
lingkungan.
a. Suhu
lingkungan
Berdasarkan
hasil pengukuran terhadap suhu lingkungan di daerah estuaria pantai Nambo diketahui
bahwa suhu lingkungan pada transek 1
yaitu 320C sedang pada transek 2 dan transek 3 yaitu 31,50C.
3. Tabel
Pengamatan
Tabel 3. Jumlah
individu dan kelimpahan individu tiap jenis Gastropoda pada setiap transek
pengamatan pada daerah estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari.
NO
|
Nama Spesies
|
Jumlah
individu (ind)
|
Kelimpahan
(ind/m2)
|
1
|
Terebralia
palustris
|
247
|
16,466
|
2
|
Terebralia
sulcata
|
22
|
3,14
|
3
|
Pleurocera sp.
|
1
|
1
|
4
|
Littoridina sp.
|
6
|
2
|
5
|
Somatogyrus sp.
|
1
|
1
|
6
|
Nerita
squamulata
|
1
|
1
|
7
|
Cochliopa
riograndensis
|
18
|
4,5
|
∑ = 296
|
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa hasil
pengamatan terhadap komunitas Gastropoda yang terdapat di daerah estuaria
Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari terdiri atas 7 spesies yaitu Terebralia palustris, Terebralia sulcata,
Pleurocera sp., Littoridina sp., Somatogyrus sp., Nerita squamulata, Cochliopa riograndensis. Dari data juga
diketahui bahwa nilai kelimpahan spesies Gastropoda pada daerah estuaria Pantai
Nambo yaitu 1 ind/ m2 - 16,466 ind/ m2, dimana kelimpahan
spesies Gastropoda tertinggi terdapat pada Terebralia
palustris yaitu 16,466 ind/ m2 sedang kelimpahan terendah
terdapat pada spesies Pleurocera sp., Somatogyrus
sp., dan Nerita squamulata yaitu 1 ind/ m2.
B. Pembahasan
Daerah
estuaria merupakan daerah pertemuan antara air laut dan air, dimana daerah ini
sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pengaruh pasang surut ini
mempengaruhi tingkat salinitas dari daerah estuaria ini. Namun demikian daerah
estuaria merupakan daeran dengan produktivitas tinggi, sebab mengandung banyak
nutrien-nutrien yang ikut terbawa oleh aliran sungai. Sehingga di daerah
estuaria ini banyak ditemukan beragam spesies hewan diantaranya hewan-hewan
Gastropoda.
Kelimpahan
spesies Gastropoda yang ditemukan di daerah estuaria ini sangat beragam, karena
kehadiran spesies-spesies Gastropoda ini sangat dipengaruhi oleh kondisi
kondisi lingkungan seperti salinitas, suhu, substrat yang selalu berubah-ubah. Spesies
dengan kelimpahan tinggi dianggap mampu dengan mudah untuk berinteraksi baik
secara interspesifik maupun intraspesifik dalam memperebutkan berbagai
nutrien-nutrien yang menunjang kehidupannya, selain itu organisme tersebut
memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya, begitu pula sebaliknya.
Berdasarkan
hasil pengamatan dan penghitungan kelimpahan spesies Gastropoda yang terdapat
pada daerah estuaria Pantai Nambo diketahui bahwa speises Terebralia palustris memiliki kelimpahan tertinggi yaitu 16,466
ind/ m2. Hal ini di duga karena spesies ini mampu hidup dengan baik
pada kondisi lingkungan di daerah estuaria dan mampu beradaptasi dengan kondisi
lingkungan di daerah estuaria yang selalu berubah-ubah. Sedangkan kelimpahan
terendah terdapat pada spesies Pleurocera
sp., Somatogyrus sp., Nerita
squamulata yaitu 1 ind/ m2.
Hal ini di duga karena hewan- hewan ini dianggap tidak terlalu dapat
berkopetisi dengan spesies lainnya dan juga kurang mampu untuk beradaptasi
dengan kondisi lingkungan yang berubah-ubah. Tingginya kelimpahan suatu spesies
pada suatu lingkungan menandakan bahwa lingkungan itu cocok bagi habitat
spesies tersebut, begitu pula sebaliknya.
Spesies
Terebralia palustris merupakan
spesies yang yang hidup di daerah lumpur berpasir, sehingga hewan ini dapat
hidup pada daerah estuaria yang merupakan kawasan dengan substrat berupa daerah
lumpur berpasir, dimana lumpur ini ikut
terbawa bersama air sungai. Sehingga Terebralia
palustris memiliki nilai kelimpahan yang tinggi. Sedangkan Pleurocera
sp., Somatogyrus sp., Nerita squamulata
hidup pada daerah sungai dan juga
pada daerah berpasir, sehingga hewan-hewan ini memiliki kemampuan yang kurang
dalam beradaptasi dengan lingkungan estuaria yang merupakan percampuran antara
air tawar dan air laut dengan substrat berupa lumpur berpasir. Sehingga
kelimpahan spesies-spesies ini sangat rendah.
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini yaitu :
1.
Kelimpahan spesies Gastropoda di kawasan
estuaria sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan yaitu suhu,
salinitas dan substrat
2.
Kelimpahan spesies Gastropoda di kawasan
estuaria Pantai Nambo Kecamatan Abeli Kota Kendari, tertinggi yaitu Terebralia palustris yaitu 16,466 ind/m2 sedang kelimpahan
spesies terendah yaitu Pleurocera sp.,
Somatogyrus sp., dan Nerita squamulata yaitu 1 ind/m2.
B.
Saran
Sebaiknya
untuk mendukung kehidupan organisme disekitar daerah estuaria khususnya
Gastropoda, maka perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang pengaruh
komunitas Gastropoda pada ekosistem estuaria di pantai Nambo Kecamatan Abeli
Kota Kendari ditinjau dari segi lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjoyo, M., 1990. Zoologi
Dasar. Erlangga. Yogyakarta.
Campbell, 2002. Biologi Jilid 2.
Erlangga. Jakarta.
Dance, P.S., 1992.
Shell. Darling Kindersley Limited. London.
Dharma,
B., 1988. Siput dan Kerang Indonesia (Indonesian Shell). PT. Sarana Graha.
Jakarta.
Jasin,
M., 1987. Sistematika Hewan Invertebrata dan Vertebrata. Sinar Wijaya.
Surabaya.
Kimball, J.W., 1999.
Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta.
0 komentar:
Posting Komentar