Judul : Alelopat
Tujuan : Untuk Mempelajari
Pengaruh Alelopat Jenis Tumbuhan
terhadap Perkecambahan
Tanaman Jagung
Tempat
/ Tanggal : Rumah Kaca Laboratorium
Pengembangan Unit Biologi /
22
Oktober – 26 November 2011
Nama / Stambuk : Martini / A1C2 08 31
A. Kajian
Pustaka
Alelopati
kebanyakan berada dalam jaringan tanaman, seperti daun, akar, bunga, buah
maupun biji, dan dikeluarkan dengan cara residu tanaman. Beberapa contoh zat
kimia yang dapat bertindak sebagai ealelopati adalah gas-gas beracun, yaitu
Sianogenesis merupakan suatu reaksi hidrolisis yang membebaskan gugusan HCN,
amonia, Ally-lisothio cyanat dan β-fenil isitio sianat sejenis gas diuapkan
dari minyak yang berasal dari familia Crusiferae dapat menghambat
perkecambahan. Selain gas, asam organik, aldehida, asam aromatik, lakton tak
jenuh sederhana, fumarin, kinon, flavanioda, tanin, alkaloida ,terpenoida dan
streroida juga dapat mengeluarkan zat alelopati. (Moenadir,1998. Persaingan
Tanaman Budidaya dengan Gulma : 73-88).
Zat-zat kimia
atau bahan organik yang bersifat allelopathy dilepaskan oleh tumbuhan
penghasilnya ke lingkungan tumbuhan lain melalui beberapa cara antara lain
melalui serasah yang telah jatuh kemudian membusuk, melalui pencucian daun atau
batang oleh air hujan, melalui penguapan dari permukaan organ-organ tumbuhan,
dan eksudasi melalui akar (root exudation)
ke dalam tanah. Contoh jenis tumbuhan yang mengeluarkan zat kimia bersifat
allelopatyy melalui daun, misalnya Adenostena
fasciculatum, Eucalyptus globules, Camelina alyssum, Erenophylla mitchellii,
yang mengeluarkan zat allelopathy melalui perakaran misalnya gandum, gandum
hitam, dan apel, sedangkan yang mengeluarkan zat Allelopathy melalui pembusukan
nisalnya Helianthus, Aster, dan Agropyron repens (Indrianto 2006. Ekologi
Hutan: 16).
Muller
(1966) telah meneliti hubungan spatial antara Salvia leucophyla dan rumput annual. Rumpun salvia yang hidup pada
padang rumbut ternyata dibawah rumpun dan disekeliling rumpun semak tersebut
terjadi zona gundul (1-2 meter) tak ada tumbuhan rumput dan herba lain. Bahkan
6-10 m dari kanopi semak tumbuhan lain menjadi kerdil. Bentuk kerdil ini tidak
disebabkan karena kompetisis untuk air, karena akar semak tidak menyusup jauh
ke daerah rumput. Faktor tanah nampak tidak bertanggung jawab untuk asosiasi
negatif, karena faktor kimia dan fisis tanah tidak berubah pada zona gundul
tersebut.
Muller menemukan bahwa salvia mengeluarkan minyak volatile dari daun dan kandungan cinoile dan canphor bersifat toksik terhadap perkecambahan dan pertumbuhan annual disekeliling. (Syamsurizal,1993. Ekologi Tumbuhan :89)
Muller menemukan bahwa salvia mengeluarkan minyak volatile dari daun dan kandungan cinoile dan canphor bersifat toksik terhadap perkecambahan dan pertumbuhan annual disekeliling. (Syamsurizal,1993. Ekologi Tumbuhan :89)
B. Prosedur
Kerja
1. Pembuatan
ekstrak alelopat
Langkah-langkah
yang dilakukan pada praktikum ini yaitu:
a) Mengambil
akar gamal kemudian membuka kulitnya kemudian membersihkannya
b) Menumbuk
akar tersebut, hingga halus dan menghasilkan ekstrak
c) Memeras
hasil tumbukan akar gamal tersebut, hingga memperoleh ekstraknya
d) Membuat
ekstrak dengan perbandingan 1 : 7, 1 : 14 dan 1 : 21, dengan cara menambahkan
air sebanyak 210 ml pada 30 ml ekstrak (untuk perbandingan 1 : 7), menambahkan air sebanyak 420 ml pada
30 ml ekstrak (untuk perbandingan 1 :
14), dan menambahkan air sebanyak 630 ml
pada 30 ml ekstrak (untuk perbandingan 1
: 21),
e) Melakukan
langkah yang sama untuk membuat ekstrak dari akar alang-alang
2. Penanaman
tanaman dan penyiraman alelopat
Langkah-langkah
yang dilakukan pada praktikum ini yaitu:
a)
Menyiapkan alat dan bahan
b)
Menggali tanah dan membersihkannya dari
segala kotoran dan mengisinya ke dalam polibek, kemudian menyiramnya dengan air
hingga agak basah.
c)
Merendam biji jagung selama beberapa
menit, kemudian menanamnya ke dalam polibek, dengan jumlah 5 biji jagung tiap
polibek
d)
Menyiram tanaman jagung dengan
menggunakan ekstrak alelopat (gamal dan alang-alang) dengan perbandingan 1 : 7, 1 : 14, 1 : 21,
dan menggunakan air sebagai kontrol, yang masing-masing perlakuan disiramkan
sebanyak 25 ml, pada umur tanaman 1 minggu setelah penanaman, setiap hari
selama 5 minggu.
e)
1 Minggu setelah penanaman, kemudian
mulai mengukur prtumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter
batang), dimana pengukuran ini dilakukan 3 kali dalam seminggu selama 5 minggu.
f)
Mencatat dan membuat data hasil
pengamatan
C. Data dan Pengolahan Data
1. Data Pengamatan
a)
Ekstrak gamal
Grafik
hubungan rata-rata laju pertumbuhan tanaman dan waktu pengamatan
1)
Konsentrasi 1 : 7
2)
Konsentrasi 1 : 14
3)
Konsentrasi 1 : 21
4)
Kontrol
b)
Ekstrak alang-alang
Grafik
hubungan rata-rata laju pertumbuhan tanaman dan waktu pengamatan
1)
Konsentrasi 1 : 7
2)
Konsentrasi 1 : 14
3)
Konsentrasi 1 : 21
4)
Kontrol
D. Pembahasan
Didalam
melakukan persaingan, suatu tumbuhan dapat mengeluarkan suatu senyawa kimia yang
bersifat alelopatik bagi tumbuhan lainnya. Senyawa kimia ini disebut senyawa
alelokimia. Senyawa kimia ini terdapat pada jaringan tumbuhan seperti daun, akar,aroma, bunga, buah maupun biji, dan
dikeluarkan dengan cara residu tanaman. Pengeluaran senyawa kimia ini merupakan
bentuk interaksi interspesifik, yang dapat menghambat pertumbuhan
tanaman lainnya bahkan dapat menimbulkan kematian.
Zat-zat kimia
atau bahan organik yang bersifat allelopati dilepaskan oleh tumbuhan
penghasilnya ke lingkungan tumbuhan lain melalui beberapa cara antara lain
melalui serasah yang telah jatuh kemudian membusuk, melalui pencucian daun atau
batang oleh air hujan, melalui penguapan dari permukaan organ-organ tumbuhan,
dan eksudasi melalui akar (root exudation)
ke dalam tanah.
Zat-zat kimia
atau bahan organik yang bersifat allelopathy dapat dibagi menjadi dua golongan
berdasarkan pengaruhnya terhadap tumbuhan atau tanaman lain, yaitu autotoxin,
yaitu zat kimia bersifat allelopathy dari suatu tumbuhan yang dapat mematikan
atau menghambat pertumbuhan anaknya sendiri atau individu lain yang sama
jenisnya dan antitoxic, yaitu zat kimia bersifat allelopathy dari suatu
tumbuhan yang dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan tumbuhan lain yang
berbeda jenisnya.
Senyawa
alelokimia ini dapat mengganggu pertumbuhan tanaman sebab senyawa alelopati dapat menghambat
penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh
tumbuhan, beberapa alelopat menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan lain, beberapa
senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar, senyawa
alelopati memberikan pengaruh menghambat sintesis protein, beberapa senyawa
alelopati dapat menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan, dan senyawa
alelopati dapat menghambat aktivitas enzim, selain itu dapat pula menyebabkan pengurangan
dan kelambatan perkecambahan biji, penahanan pertumbuhan tanaman, gangguan
sistem perakaran, klorosis, layu, bahkan kematian tanaman.
Ada berbagai
jenis tumbuhan yang dapat menghasilkan senyawa alelokimia ini, diantaranya
tanaman alang-alang (Imperata cylindrica)
dan gamal. Dalam praktikum ini senyawa alelokimia ini diperoleh dari hasil
ekstrakan akar kedua jenis tanaman tersebut, yang diberikan pada tanaman
jagung. Senyawa alelokimia yang dikeluarkan dapat menghambat pertumbuhan
tanaman jagung tersebut, bahkan menyebabkan kematian.
Dari hasil
pengamatan, tampak bahwa penyiraman alelopat pada tanaman jagung baik dengan
menggunakan ekstrak gamal maupun alang-alang dapat menyebabkan timbulnya
gangguan pada pertumbuhan tanaman jagung tersebut. Alelopat dengan konsentrasi
tinggi (1:7) menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, dimana tingkat
pertumbuhan tanaman menjadi rendah, dan daunnya pun akan banyak mengalami
gangguan sehingga cepat berwarna cokelat, yang menyebabkan terganggunya proses
fotosintesis tanaman itu. Pada konsentrasi tinggi kandungan senyawa alelokimia
yang terkandung di dalamnya sangat banyak sehingga mengganggu segala aktivitas
metabolisme pada tanaman itu.
Pada konsentrasi
1 : 14, terjadi pula gangguan pertumbuhan, namun tidak secepat efek pada
konsentrasi 1;7. Begitupula pada konsentrasi 1 : 21, tanaman jagung tumbuh
dengan agak baik, layaknya tanaman kontrol, hanya tanaman ini sedikit mengalami
gangguan pertumbuhan. Sedang pada tanaman kontrol, tidak terjadi gangguan
pertumbuhan seperti yang disebabkan oleh pengaruh alelopat.
Pengaruh
pemberian konsentrasi yang berbeda ini memberikan pengaruh yang sama terhadap
tanaman yang diberikan alelopat ekstrak gamal maupun ekstrak alang-alang. Dari
grafik pengamatan dapat diketahui baha pengaruh ekstrak alang-alang lebih baik
dari pengaruh ekstrak gamal, dimana tingkat pertumbuhan tanaman jagung yang
diberi ekstrak alang-alang lebih rendah dari yang diberi ekstrak gamal. Hal ini
dapat terlihat dari rendahnya tingkat kesuburan tanaman, yang ditunjukan dengan
rendahnya tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang.
Senyawa
alelokimia yang terkandung pada akar alang-alang bekerja dengan cara menggangu
proses fotosintesis dan pembelahan sel, yang menyebabkan terganggunya segala
aktivitas metabolisme dalam tubuh tanaman jagung tersebut.
E. Kesimpulan
Kesimpulan dari
praktikum ini yaitu: senyawa alelokimia yang terkandung pada tanaman gamal
maupun alang-alang, dapat mengganggu pertumbuhan tanaman jagung, dimana semakin
tinggi konsentrasi senyawa alelokimia nya maka semakin besar pengaruhnya
terhadap pertumbuhan tanaman jagung itu, diaman alelokimia dengan konsentrasi tinggi
lebih cepat menghambat pertumbuhan tanaman jagung, begitupula sebaliknya.
0 komentar:
Posting Komentar