Jumat, 20 April 2012

LAPORAN ALELOPAT


Judul                           : Alelopat
Tujuan                         : Untuk Mempelajari Pengaruh Alelopat Jenis Tumbuhan
terhadap Perkecambahan Tanaman Jagung
Tempat / Tanggal         : Rumah Kaca Laboratorium Pengembangan Unit Biologi /      
22 Oktober – 26 November 2011
Nama / Stambuk         : Martini / A1C2 08 31
A.    Kajian Pustaka
Alelopati kebanyakan berada dalam jaringan tanaman, seperti daun, akar, bunga, buah maupun biji, dan dikeluarkan dengan cara residu tanaman. Beberapa contoh zat kimia yang dapat bertindak sebagai ealelopati adalah gas-gas beracun, yaitu Sianogenesis merupakan suatu reaksi hidrolisis yang membebaskan gugusan HCN, amonia, Ally-lisothio cyanat dan β-fenil isitio sianat sejenis gas diuapkan dari minyak yang berasal dari familia Crusiferae dapat menghambat perkecambahan. Selain gas, asam organik, aldehida, asam aromatik, lakton tak jenuh sederhana, fumarin, kinon, flavanioda, tanin, alkaloida ,terpenoida dan streroida juga dapat mengeluarkan zat alelopati. (Moenadir,1998. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma : 73-88).
Zat-zat kimia atau bahan organik yang bersifat allelopathy dilepaskan oleh tumbuhan penghasilnya ke lingkungan tumbuhan lain melalui beberapa cara antara lain melalui serasah yang telah jatuh kemudian membusuk, melalui pencucian daun atau batang oleh air hujan, melalui penguapan dari permukaan organ-organ tumbuhan, dan eksudasi melalui akar (root exudation) ke dalam tanah. Contoh jenis tumbuhan yang mengeluarkan zat kimia bersifat allelopatyy melalui daun, misalnya Adenostena fasciculatum, Eucalyptus globules, Camelina alyssum, Erenophylla mitchellii, yang mengeluarkan zat allelopathy melalui perakaran misalnya gandum, gandum hitam, dan apel, sedangkan yang mengeluarkan zat Allelopathy melalui pembusukan nisalnya Helianthus, Aster, dan Agropyron repens (Indrianto 2006. Ekologi Hutan: 16).
Muller (1966) telah meneliti hubungan spatial antara Salvia leucophyla dan rumput annual. Rumpun salvia yang hidup pada padang rumbut ternyata dibawah rumpun dan disekeliling rumpun semak tersebut terjadi zona gundul (1-2 meter) tak ada tumbuhan rumput dan herba lain. Bahkan 6-10 m dari kanopi semak tumbuhan lain menjadi kerdil. Bentuk kerdil ini tidak disebabkan karena kompetisis untuk air, karena akar semak tidak menyusup jauh ke daerah rumput. Faktor tanah nampak tidak bertanggung jawab untuk asosiasi negatif, karena faktor kimia dan fisis tanah tidak berubah pada zona gundul tersebut.
Muller menemukan bahwa salvia mengeluarkan minyak volatile dari daun dan kandungan cinoile dan canphor bersifat toksik terhadap perkecambahan dan pertumbuhan annual disekeliling. (Syamsurizal,1993. Ekologi Tumbuhan
:89)
B.     Prosedur Kerja
1.      Pembuatan ekstrak alelopat
Langkah-langkah yang dilakukan pada praktikum ini yaitu:
a)      Mengambil akar gamal kemudian membuka kulitnya kemudian membersihkannya
b)      Menumbuk akar tersebut, hingga halus dan menghasilkan ekstrak
c)      Memeras hasil tumbukan akar gamal tersebut, hingga memperoleh ekstraknya
d)     Membuat ekstrak dengan perbandingan 1 : 7, 1 : 14 dan 1 : 21, dengan cara menambahkan air sebanyak 210 ml pada 30 ml ekstrak (untuk perbandingan  1 : 7), menambahkan air sebanyak 420 ml pada 30 ml ekstrak (untuk perbandingan  1 : 14),  dan menambahkan air sebanyak 630 ml pada 30 ml ekstrak (untuk perbandingan  1 : 21),
e)      Melakukan langkah yang sama untuk membuat ekstrak dari akar alang-alang
2.      Penanaman tanaman dan penyiraman alelopat
Langkah-langkah yang dilakukan pada praktikum ini yaitu:
a)        Menyiapkan alat dan bahan
b)        Menggali tanah dan membersihkannya dari segala kotoran dan mengisinya ke dalam polibek, kemudian menyiramnya dengan air hingga agak basah.
c)        Merendam biji jagung selama beberapa menit, kemudian menanamnya ke dalam polibek, dengan jumlah 5 biji jagung tiap polibek
d)       Menyiram tanaman jagung dengan menggunakan ekstrak alelopat (gamal dan alang-alang)  dengan perbandingan 1 : 7, 1 : 14, 1 : 21, dan menggunakan air sebagai kontrol, yang masing-masing perlakuan disiramkan sebanyak 25 ml, pada umur tanaman 1 minggu setelah penanaman, setiap hari selama 5 minggu.
e)        1 Minggu setelah penanaman, kemudian mulai mengukur prtumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang), dimana pengukuran ini dilakukan 3 kali dalam seminggu selama 5 minggu.
f)         Mencatat dan membuat data hasil pengamatan

C. Data dan Pengolahan Data
     1. Data Pengamatan 

a)      Ekstrak gamal
Grafik hubungan rata-rata laju pertumbuhan tanaman dan waktu pengamatan
1)      Konsentrasi 1 : 7
      
2)      Konsentrasi 1 : 14
      
 



3)        Konsentrasi 1 : 21

  
4)      Kontrol
      


b)      Ekstrak alang-alang
Grafik hubungan rata-rata laju pertumbuhan tanaman dan waktu pengamatan
1)      Konsentrasi 1 : 7
       

2)      Konsentrasi 1 : 14
       
 

3)      Konsentrasi 1 : 21
       
4)      Kontrol 
D.      Pembahasan
Didalam melakukan persaingan, suatu tumbuhan dapat mengeluarkan suatu senyawa kimia yang bersifat alelopatik bagi tumbuhan lainnya. Senyawa kimia ini disebut senyawa alelokimia. Senyawa kimia ini terdapat pada jaringan tumbuhan seperti daun, akar,aroma, bunga, buah maupun biji, dan dikeluarkan dengan cara residu tanaman. Pengeluaran senyawa kimia ini merupakan bentuk interaksi interspesifik, yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lainnya bahkan dapat menimbulkan kematian.
Zat-zat kimia atau bahan organik yang bersifat allelopati dilepaskan oleh tumbuhan penghasilnya ke lingkungan tumbuhan lain melalui beberapa cara antara lain melalui serasah yang telah jatuh kemudian membusuk, melalui pencucian daun atau batang oleh air hujan, melalui penguapan dari permukaan organ-organ tumbuhan, dan eksudasi melalui akar (root exudation) ke dalam tanah.
Zat-zat kimia atau bahan organik yang bersifat allelopathy dapat dibagi menjadi dua golongan berdasarkan pengaruhnya terhadap tumbuhan atau tanaman lain, yaitu autotoxin, yaitu zat kimia bersifat allelopathy dari suatu tumbuhan yang dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan anaknya sendiri atau individu lain yang sama jenisnya dan antitoxic, yaitu zat kimia bersifat allelopathy dari suatu tumbuhan yang dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan tumbuhan lain yang berbeda jenisnya.
Senyawa alelokimia ini dapat mengganggu pertumbuhan tanaman sebab senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan, beberapa alelopat menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan lain, beberapa senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar, senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat sintesis protein, beberapa senyawa alelopati dapat menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan, dan senyawa alelopati dapat menghambat aktivitas enzim, selain itu dapat pula menyebabkan pengurangan dan kelambatan perkecambahan biji, penahanan pertumbuhan tanaman, gangguan sistem perakaran, klorosis, layu, bahkan kematian tanaman.
Ada berbagai jenis tumbuhan yang dapat menghasilkan senyawa alelokimia ini, diantaranya tanaman alang-alang (Imperata cylindrica) dan gamal. Dalam praktikum ini senyawa alelokimia ini diperoleh dari hasil ekstrakan akar kedua jenis tanaman tersebut, yang diberikan pada tanaman jagung. Senyawa alelokimia yang dikeluarkan dapat menghambat pertumbuhan tanaman jagung tersebut, bahkan menyebabkan kematian.
Dari hasil pengamatan, tampak bahwa penyiraman alelopat pada tanaman jagung baik dengan menggunakan ekstrak gamal maupun alang-alang dapat menyebabkan timbulnya gangguan pada pertumbuhan tanaman jagung tersebut. Alelopat dengan konsentrasi tinggi (1:7) menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, dimana tingkat pertumbuhan tanaman menjadi rendah, dan daunnya pun akan banyak mengalami gangguan sehingga cepat berwarna cokelat, yang menyebabkan terganggunya proses fotosintesis tanaman itu. Pada konsentrasi tinggi kandungan senyawa alelokimia yang terkandung di dalamnya sangat banyak sehingga mengganggu segala aktivitas metabolisme pada tanaman itu.
Pada konsentrasi 1 : 14, terjadi pula gangguan pertumbuhan, namun tidak secepat efek pada konsentrasi 1;7. Begitupula pada konsentrasi 1 : 21, tanaman jagung tumbuh dengan agak baik, layaknya tanaman kontrol, hanya tanaman ini sedikit mengalami gangguan pertumbuhan. Sedang pada tanaman kontrol, tidak terjadi gangguan pertumbuhan seperti yang disebabkan oleh pengaruh alelopat.
Pengaruh pemberian konsentrasi yang berbeda ini memberikan pengaruh yang sama terhadap tanaman yang diberikan alelopat ekstrak gamal maupun ekstrak alang-alang. Dari grafik pengamatan dapat diketahui baha pengaruh ekstrak alang-alang lebih baik dari pengaruh ekstrak gamal, dimana tingkat pertumbuhan tanaman jagung yang diberi ekstrak alang-alang lebih rendah dari yang diberi ekstrak gamal. Hal ini dapat terlihat dari rendahnya tingkat kesuburan tanaman, yang ditunjukan dengan rendahnya tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang.
Senyawa alelokimia yang terkandung pada akar alang-alang bekerja dengan cara menggangu proses fotosintesis dan pembelahan sel, yang menyebabkan terganggunya segala aktivitas metabolisme dalam tubuh tanaman jagung tersebut.
E.     Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini yaitu: senyawa alelokimia yang terkandung pada tanaman gamal maupun alang-alang, dapat mengganggu pertumbuhan tanaman jagung, dimana semakin tinggi konsentrasi senyawa alelokimia nya maka semakin besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman jagung itu, diaman alelokimia dengan konsentrasi tinggi lebih cepat menghambat pertumbuhan tanaman jagung, begitupula sebaliknya.

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates